Malu

Malu dalam bahasa Arab disebut kata al-haya’ artinya Malu disebutkan oleh Nabi Saw sebagai cabang dari iman karena dengan sifat malu seseorang dapat tergerak melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. 

Sifat malu akan selalu mengantarkan seseorang pada kebaikan. Jika ada seseorang yang tidak berani melakukan kebaikan, maka sebabnya bukanlah sifat malu yang dimilikinya, tetapi itu disebabkan sifat penakut dan kelemahan yang dimiliki seseorang tersebut. Demikian Imam an-Nawawi menjelaskan dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim.

Dalam hadis Nabi Muhammad Saw:

Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad Saw. menegur seorang laki-laki yang sedang mencela sifat malu yang dimiliki saudaranya. Sifat malu dalam hadis tersebut adalah bagian dari cabang iman. Mengapa? Karena sifat malu dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan maksiat dan hal-hal yang dilarang agama (Badruddin Abi Muhammad Mahmud bin Ahmad al-‘Aini dalam Kitab ‘Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari juz 1).

Menurut Ibnu Hajar penulis kitab Fath al-Bari, malu dibagi menjadi dua, yaitu.

1) Malu naluri (gharizah) yakni sifat malu yang Allah ciptakan pada diri hamba sehingga mengantarkan hamba tersebut melakukan kebaikan dan menghindari keburukan serta memotivasi untuk berbuat yang indah. Inilah yang termasuk cabang dari iman, karena bisa menjadi perantara menaiki derajat iman. 

2) Malu yang dicari/dilatih (muktasab). Sifat malu ini adakalanya bagian dari iman, seperti rasa malu sebagai hamba di hadapan Allah pada hari kiamat, sehingga menjadikannya mempersiapkan bekal untuk menemui Allah di akhirat nanti. Adakalanya juga malu ini bagian dari ihsan, seperti malunya hamba karena adanya rasa taqarrub atau merasa selalu dalam pengawasan Allah, inilah puncak dari macam-macam cabang iman.

Dengan demikian, sifat malu sangat penting dimiliki oleh setiap manusia, karena dapat menjadi perantara meningkatkan keimanan sampai pada puncaknya. Supian Sauri (2019) menegaskan bahwa manusia yang memiliki sifat malu (haya’) ialah manusia yang mampu untuk menahan dan menutup diri dari hal-hal yang akan dapat mendatangkan aib atau keburukan pada dirinya. Dengan demikian, jika pada masa sekarang ini banyak perilaku buruk yang muncul dari umat beragama, seperti pencurian, penipuan, bahkan kasus korupsi, maka itu tidak lain karena sudah menipisnya rasa malu dari seorang hamba tersebut.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel