Wali Songo dan Pembentukan Masyarakat Islam di Nusantara

1. Sunan Gresik

Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gresik, merupakan tokoh yang pertama kali dipercaya sebagai penyebar ajaran Islam di tanah Jawa. Diperkirakan Maulana Malik Ibrahim datang ke Gresik pada kurun waktu tahun 1404 M. Maulana Malik Ibrahim adalah seorang ulama yang berasal dari Arab. Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai nasab dan asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, namun Masyarakat pada umumnya menyepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli. Ia juga disebut dengan julukan Syekh Maghribi yang kemungkinan mengisyaratkan asal keturunannya, yakni wilayah Arab Maghrib di Afrika Utara. 

Peran dakwah Maulana Malik Ibrahim dilakukan di Gresik hingga wafat pada tahun 1419 M. Kerajaan yang berkuasa pada saat era dakwah Maulana Malik Ibrahim adalah Kerajaan Majapahit yang kebanyakan masyarakatnya masih menganut ajaran Hindu atau Budha, mengikuti agama dari raja yang saat itu berkuasa.

Kondisi keberagamaan masyarakat Gresik waktu itu sudah terbelah. Karena sudah ada yang menganut Islam, tapi masih banyak yang menganut agama Hindu, bahkan masih ada yang tidak menganut agama apa pun sama sekali. 

Namun sifat ramah dan penuh dengan kedamaian yang dimiliki oleh Maulana Malik Ibrahim tidak hanya kepada umat Islam saja tetapi juga kepada pada penganut Hindu dan Budha membuat dirinya dikenal sebagai tokoh yang dikagumi dan dihormati. Kelembutan yang ada dalam dirinya itulah yang menarik hari penduduk setempat secara suka rela masuk agama Islam dan menjadi pengikutnya.

Apalagi dalam ajaran Islam tidak mengenal kastanisasi sebagaimana ajaran Hindu sebelumnya. Pada ajaran Hindu, terdapat sistem kasta yaitu pengelompokan atau penggolongan manusia berdasarkan golongan tertentu yaitu: (1) Kasta paling tinggi adalah kasta Brahmana yaitu golongan tokoh agama, pendeta dan rohaniawan yang bekerja di bidang spiritual; (2) kasta yang kedua adalah Ksatria, yaitu golongan bangsawan, para kepala dan anggota lembaga pemerintahan; (3) kasta ketiga adalah Waisya yaitu para pekerja di sektor ekonomi seperti pedagang; dan (4) kasta Sudra yaitu para pekerja yang bertugas untuk membantu dan melayani para kasta di atasnya. 

Dari keempat kasta tersebut, kasta Sudra-lah yang merupakan kasta yang paling banyak dijumpai di Gresik. Kasta ini terdiri dari rakyat jelata, orang miskin, orang-orang yang tertindas dan orang-orang yang kurang pandai. Pada umumnya mereka adalah pekerja kasar di sektor informal, yang tidak diijinkan untuk bergaul dan menikah dengan orang yang berlainan kasta. 

Hal tersebut menjadikan Maulana Malik Ibrahim tergerak untuk melakukan perbaikan, karena dalam ajaran Islam, pengelompokan manusia berdasarkan kasta merupakan kerusakan moral dan tidak sesuai dengan ajaran Islam, di mana tidak ada yang membedakan derajat satu orang dengan orang yang lain melainkan ketakwaannya kepada Allah Swt.

Namun demikian untuk merubah dari sistem kastanisasi kepada non kastanisasi seperti ajaran Islam bukanlah hal yang mudah. Yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim adalah melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui pergaulan. Ia selalu membiasakan budi bahasa yang ramah dan santun dan tidak menunjukkan pertentangan dan perlawanan kepada ajaran dan kepercayaan penduduk pribumi. Ia memperlihatkan keindahan dan kemuliaan yang dibawa oleh ajaran Islam. Sehingga berkat keramah-tamahan dan kehalusan budi pekertinya tersebut, banyak masyarakat pribumi yang kemudian menganut agama Islam.

Pada mulanya Maulana Malik Ibrahim berdakwah di kalangan orang orang yang tersisih karena perbedaan kasta tersebut, ia memperkenalkan Islam melalui adab dan perilaku maupun informasi yang ia sampaikan kepada masyarakat sehingga sering terjadi kajian yang panjang dan mengasikkan. 

Kemudian setelah berhasil memikat hati masyarakat, Maulana Malik Ibrahim menempuh cara dagang. Aktivitas niaga ini membawanya mengenal semakin banyak orang dan masyarakat yang lebih luas, khususnya orang-orang kerajaan Majapahit dan para bangsawan yang terlibat dalam transaksi perniagaan dengannya. 

Setelah aktivitas perniagaan dan dakwah kepada para bangsawan ini berjalan lancar, Maulana Malik Ibrahim pergi ke Trowulan, ibukota kerajaan Majapahit untuk bertemu Raja. Meskipun Raja tidak berkenan masuk Islam, namun kehadirannya disambut baik bahkan ia diberikan sebidang tanah di daerah pinggiran Gresik. Wilayah tersebut saat ini dikenal dengan nama Desa Gapura.

Kemudian setelah mendapatkan tanah dan ijin dari Raja untuk mengembangkan syiar Islam, Maulana Malik Ibrahim lalu menyiapkan kader dengan mendirikan dan membuka pondok pesantren. Pesantren adalah sebuah lembaga yang dipergunakan untuk mendidik dan menyiapkan pemuka pemuka agama selanjutnya. Dan setelah selesai membangun pondok pesantren di Desa Leran, pada tahun 1419 M Syekh Maulana Malik Ibrahim pun wafat dan dimakamkan di Desa Gapura, Gresik, Jawa Timur. Oleh karena itulah ia juga disebut dengan Sunan Gresik.

Di antara peninggalan-peninggalan Sunan Gresik adalah percampuran, asimilasi dan akulturasi budaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang fleksibel, tidak kaku dan tidak mengandung unsur paksaan bagi pemeluknya. Dan seharusnya metode dakwah seperti inilah yang dianut oleh para pendakwah kontemporer saat ini. Dalam menghadapi adat istiadat, tradisi, kepercayaan, aliran dan kelompok-kelompok yang berbeda golongan, hendaklah yang dikedepankan adalah sifat humanis, ramah, damai dan menebar kemuliaan, sehingga Islam dapat diterima sebagai sebuah agama dengan pesan damai, bukan sebaliknya, Islam dipandang sebagai kelompok ekstrim dan radikal karena sikapnya terhadap umat dan golongan lain yang sekiranya berbeda.


2. Sunan Ampel

Nama asli dari Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Ia lahir pada tahun 1401 M kemudian datang ke pulau Jawa sekitar tahun 1443 M., dan meninggal pada tahun 1481 M. di Demak dan dimakamkan di Ampel, Surabaya. Ia merupakan putra Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dari seorang istri yang berasal dari Negeri Champa. 

Para sejarawan kesulitan untuk menentukan Negeri Champa tersebut, namun sebagian mereka berkeyakinan bahwa Champa yang dimaksud adalah sebutan sebuah daerah bernama Jeumpa di Aceh. 

Ayah Sunan Ampel adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Ibunya bernama Dewi Candrawulan. Sunan Gresik memiliki dua orang istri yaitu Dewi Candrawulan dan Dewi Karimah. Dengan Dewi Karimah ia memiliki dua orang putra yaitu Dewi Murtasih (istri Raden Fatah, sultan pertama kerajaan Demak Bintoro) dan Dewi Murtasimah (istri Raden Paku/Sunan Giri). 

Dengan istri kedua Dewi Candrawulan, ia memiliki lima orang putera yaitu Siti Syareat, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) serta Syarifudin atau Raden Kosim (Sunan Drajat). Sunan Ampel hidup pada zaman Majapahit yang mengalami kemunduran drastis pasca ditinggal wafat Maha Patih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk. 

Majapahit terpecah karena terjadi banyak perang saudara dan para adipati tidak loyal lagi kepada pemerintah kerajaan. Pembayaran pajak dan upeti tidak sampai ke kerajaan dan lebih sering dinikmati oleh para adipati. Kaum bangsawan dan para pangeran juga memiliki kebiasaan buruk dengan berpesta pora, berjudi dan mabuk-mabukan. Prabu Brawijaya yang melanjutkan pemerintahan Prabu Hayam Wuruk menyadari bahwa apabila kebiasaan tersebut dilanjutkan, maka negara akan menjadi lemah, dan jika negara lemah, dengan mudah musuh akan menghancurkan kerajaan Majapahit.

Berdasarkan pada situasi yang memprihatinkan tersebut, kerajaan akhirnya memanggil Raden Rahmat putra dari Dewi Candrawulan di Negeri Champa yang terkenal sebagai seseorang yang mendidik dan mengatasi kemorosotan moral di kalangan masyarakat. Pada Babad Diponegoro disebutkan bahwa akhirnya Raden Rahmat (Sunan Ampel) memiliki pengaruh yang cukup kuat di kerajaan Majapahit. Meskipun Raja Brawijaya menolak masuk Islam, namun ia memberikan keleluasaan kepada Sunan Ampel untuk mengajarkan Islam kepada rakyatnya, asalkan dilakukan dengan tanpa paksaan. Dan selama tinggal di Majapahit, Raden Rahmat dinikahkan dengan Nyi Ageng Manila, puteri Bupati Tuban. Sejak saat itulah gelar kerajaan melekat di depan namanya, diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit dan semakin disegani oleh masyarakat.

Raden Rahmat kemudian membangun pesantren sebagai lembaga pendidikan untuk terus mengajarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat, sehingga Islam semakin berkembang di wilayah Ampel. Pesantren tersebut mengadopsi konsep pusat pendidikan yang telah berdiri pada masa Hindu Budha. Ia tidak pernah memaksanakn ajaran-ajaran lama untuk serta-merta dihapuskan. Bahkan ia justru menjadikannya sebagai sarana untuk mengenalkan Islam. Misalnya penamaan tempat ibadah dari kata ‘sanggar’ pada era Hindu Budha diganti menjahi ‘langgar’. Kata ‘shastri’ yang merujuk pada orang-orang yang membaca kitab suci agama Hindu diubah menjadi ‘santri’ yaitu orang orang yang sedang memperdalam ajaran Islam, menggunakan istilah untuk salat dengan kata sembahyang yaitu berasal dari kata ‘sembah’ dan hyang.

Sunan Ampel memiliki toleransi yang tinggi dengan tidak pernah mempermasalahkan adanya perbedaan. Siapa saja baik itu keluarga kerajaan, bangsawan, hingga rakyat yang paling rendah sekalipun bisa menjadi pemeluk agama Islam. Sehingga karena hal itulah nama dan ajaran yang dibawa oleh Sunan Ampel semakin dikenal luas oleh masyarakat.

Sunan Ampel mengenalkan ajaran yang sangat berkaitan dengan kebiasaan masyarakat kala itu, yaitu ajaran Moh Limo. Moh Limo berasal dari bahasa Jawa yaitu emoh (tidak mau) dan limo (lima). Artinya ajaran yang mengajak masyarakat untuk tidak melakukan lima hal yang tercela. Kelima hal tersebut adalah:

1) Moh main yaitu tidak mau berjudi, mengundi nasib dan memasang taruhan

2) Moh ngombe yaitu tidak mau mabuk, minum-minuman keras dan mengkonsumsi arak/tuak.

3) Moh maling yaitu tidak mau mencuri dan mengambil barang yang bukan miliknya.

4) Moh madat yaitu menolak untuk merokok, menggunakan narkotika dan hal-hal lain yang memabukkan

5) Moh madon yaitu menolak untuk bermain perempuan yang bukan istrinya.Ada beberapa hal yang mempengaruhi berkembangnya Islam pada masa kerajaan Majapahit yang saat itu bernapaskan agama Hindu. Di antaranya adalah Sunan Ampel tidak melakukan konfrontasi atau pemaksaan terhadap masyarakat untuk memeluk agama Islam. Sunan Ampel yang diminta oleh kerajaan untuk mengembalikan budi pekerti dan akhlak masyarakat Majapahit yang mengalami degradasi dan kemerosotan moral pasca wafatnya Maha Patih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk. Dari situlah Sunan Ampel menyisipkan pengajaran tentang adab, norma dan nilai-nilai Islam kepada masyarakat Majapahit.

Sunan Ampel menyampaikan ajaran tersebut dengan cara yang lembut dan tanpa paksaan, tanpa kekerasan dan semua aktivitas dakwahnya dilakukan dengan cara ‘mengundang’ bukan dengan ‘menyuruh’. Dan yang harus diperhatikan oleh generasi Islam pada zaman modern saat ini adalah sejak pedagang Arab masuk ke Nusantara untuk pertama kalinya, Islam tidak pernah melakukan kekerasan karena Islam membawa misi perdamaian, baik dalam urusan ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Hal inilah yang menjadi faktor utama cepat berkembangnya Islam di tanah Jawa.


3. Sunan Bonang

Sunan Bonang merupakan salah satu dari Wali Songo yang berperan dalam menyebarkan Islam di pulau Jawa, melanjutkan misi dakwah yang disampaikan sebelumnya oleh Sunan Ampel. Nama asli Sunan Bonang adalah Raden Makdum Ibrahim lahir sekitar abad ke-14 Masehi, kurang lebih pada tahun 1465 M dan wafat pada tahun 1525 M dan dimakamkan di Tuban, Jawa Timur. Sunan Bonang merupakan putra dari Sunan Ampel dengan istrinya Dewi Candrawati, puteri dari salah satu tumenggung kerajaan Majapahit di wilayah Tuban, sehingga dapat dikatakan bahwa Sunan Bonang merupakan keturunan dari salah seorang pembesar kerajaan Majapahit.

Nama Sunan Bonang diberikan kepadanya karena salah satu media yang ia pergunakan untuk berdakwah adalah menggunakan alat musik tradisional yaitu gamelan, dan salah satu instrument musiknya bernama bonang. Dengan strategi dan media dakwah tersebut semakin banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya, sehingga lama kelamaan Raden Makdum Ibrahim lebih dikenal dengan nama Sunan Bonang.

Sunan Bonang mempelajari ilmu agama dari pesantren Sunan Ampel, ayahnya sendiri. Kemudian ia melanjutkan memperdalam ilmu agama Islam sampai keluar pulau Jawa bahkan sampai di Pasai, yang pengajarnya berasal dari Timur Tengah maupun India.

Selesai belajar ilmu agama di Pasai, Sunan Bonang kembali ke Jawa dan meneruskan jejak ayahandanya untuk menyebarkan ajaran Islam. Sunan Bonang kemudian menjadi salah satu dari Wali Songo yang berdakwah di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Rembang, Lasem dan Tuban. 

Ia pun menyebarkan Islam dengan cara-cara seperti yang ditempuh oleh ayahandanya.Sunan Bonang pun menggunakan pendekatan budaya sebagai sarana dakwahnya. Ia tidak serta merta mengganti budaya yang telah berkembang sebelumnya di wilayah dakwahnya, namun menyerap budaya yang sudah ada kemudian dipadukan dengan ajaran dan nilai-nilai Islam. Sunan Bonang memanfaatkan salah satu alat musik tradisional yang ada di Jawa Timur yaitu bonang yang merupakan salah satu instrumen dalam set gamelan Jawa. Sunan Bonang dianggap memiliki kreatifitas dan daya seni yang luar biasa karena selain memainkan alat musik ia juga berdakwah.

Di antara masyarakat awam yang ada di wilayah Tuban, yang belum tertarik untuk masuk Islam, tetapi mereka tertarik terlebih dahulu dengan permainan alat musik bonang, dan hal tersebut tidak menjadi persoalan bagi Sunan Bonang. Ia menerima dengan senang hati apapun respons masyarakat terhadapnya. Sebab baginya, tertarik dengan permainan bonang terlebih dahulu, setelah terbiasa mendengar permainan bonang yang di dalamnya ia juga berkesempatan untuk berdakwah, kelak masyarakat pun akan menerima ajaran Islam yang ia bawa dengan penuh kerelaan.

Kreatifitas permainan bonang yang dilakukan oleh Sunan Bonang juga dipadukan dengan kepandaiannya menyusun syair-syair yang ia masukkan ajaran-ajaran dakwah untuk menanamkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Dengan cara yang begitu kreatif, akhirnya banyak masyarakat yang tertarik, apalagi syair-syair yang disusun oleh Sunan Bonang berisi ajaran Islam yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Sunan Bonang sering menyenandungkan syair-syair tersebut di kerajaan Majapahit. Kompetensi dan kemampuannya membawakan syair-syair yang diiringi musik gamelan tersebut dianggap sebagai sebuah karya seni sekaligus sebagai sarana dakwah sehingga semakin banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya memeluk ajaran Islam.

Syair-syair dengan nilai sastra berisi tentang keindahan dan disisipkan ajaran-ajaran Islam yang diciptakan oleh Sunan Bonang ini, kemudian dikenal dengan nama Suluk. Sampai saat ini suluk-suluk tersebut masih dapat dibaca dan dipahami sebagai referensi untuk menjalankan ajaran dakwah Islam di era modern saat ini pun. Suluk tersebut berbentuk prosa atau puisi-puisi yang kemudian dilantunkan dengan iringan alat musik bonang.

Melalui suluk, Sunan Bonang terus menyampaikan kedalaman makna ajaran Islam kepada pengikutnya. Suluk sendiri memiliki arti mengenal atau mendekatkan diri kepada Allah Swt., sehingga syair-syair yang diciptakan tidak hanya memiliki keindahan dari unsur sastra, tetapi juga berisi tentang ajaran mengenai kecintaan kepada Sang Pencipta Allah Swt. Sunan Bonang menanamkan kepada masyarakat dan pengikutnya bahwa cinta kepada Sang Pencipta adalah cinta yang hakiki, bersifat mendalam dan menyeluruh, sehingga apabila manusia telah mencintai Tuhannya, maka manusia akan mampu menemukan kedamaian hati yang sesungguhnya. 

Di antara suluk Sunan Bonang yang masih terkenal sampai saat ini adalah Suluk Tombo Ati yang syairnya adalah sebagai berikut:

Tombo ati, iku limo ing wernane, kaping pisan maca Qur’an lan maknane, kaping pindho, salat wengi lakono, kaping telu wong kang saleh kumpulono. Kaping papat, kudu weteng ingkang luwe, kaping limo dzikir wengi ingkang suwe. Salah sawijine, sopo biso nglakoni, insya Allah, Gusti Allah nyembadani’Yang artinya adalah sebagai berikut:

“Óbat hati, ada lima perkaranya, yang pertama baca Qur’an dan maknanya, yang kedua salat malam dirikanlah, yang ketiga berkumpullah dengan orang saleh. Yang keempat perbanyaklah berpuasa, yang kelima zikir malam perpanjanglah. Salah satunya, jika kita menjalani, moga-moga Gusti Allah mencukupi”.

Demikianlah, Sunan Bonang dikenal sebagai seorang wali yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, juga merupakan seorang seniman. Tidak ada catatan bahwa Sunan Bonang pernah melakukan pemaksaan dalam penyebaran agama Islam. Sejarah justru mencatat tentang kecemburuan dari tokoh masyarakat setempat yang merasa tersaingi oleh kehadiran Sunan Bonang yang berasal dari luar daerah, tetapi justru diterima dengan baik oleh masyarakat.Tokoh yang menentang Sunan Bonang tersebut bernama Ki Buto Locaya dan Nyai Plencing yang menganut kepercayaan Bairawa-Bairawi. Keduanya menentang Sunan Bonang dan menghasut masyarakat untuk melakukan perlawanan. Meskipun demikian Sunan Bonang tidak memberikan perlawanan balik. Ia berpindah ke daerah lain dan tetap menyampaikan ajaran dakwah Islam di daerah lain.

Sunan Bonang memang tidak pernah tercatat memiliki pasukan dari pengikutnya, untuk memerangi masyarakat yang enggan memeluk agama Islam. Pun juga tidak pernah melakukan perlawanan terhadap orang-orang yang menentangnya. Justru dengan kepandaiannya berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat setempat, ia mampu menyatu dengan aspek-aspek kehidupan yang kemudian ia manfaatkan untuk menyisipkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.

Memang seharusnya demikianlah strategi dakwah yang harus dilakukan untuk menyampaikan ajaran kepada masyarakat, dilakukan dengan penuh kedamaian, tidak konfrontatif, penuh kelembutan dan kasih sayang serta menghindari permusuhan dengan tidak memancing dan terpancing untuk melakukan dakwah dengan kekerasan, apalagi pada masyarakat yang majemuk dan plural di era modern saat ini.


4. Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah salah satu putra dari Sunan Ampel, dan merupakan saudara dari Sunan Bonang. Nama aslinya adalah Raden Qosim atau juga dikenal dengan nama Syarifuddin. Ia lahir pada abad ke-15 M. sekitar tahun 1470 M. dan wafat pada tahun 1522 M. dan dimakamkan di Desa Drajat, wilayah Lamongan Jawa Timur.

Sunan Drajat menghabiskan masa mudanya untuk belajar agama Islam kepada ayahnya Sunan Ampel, di Ampel Denta, Surabaya. Seperti halnya kakaknya, Sunan Bonang yang belajar Islam tidak hanya dari pesantren ayahandanya, Sunan Drajat pun memperdalam agama Islam dari para ulama yang datang bersama kapal-kapal dagang Arab. Sunan Drajat kemudian memperoleh ilmu pengetahuan yang semakin luas dan mendalam.

Ia melakukan dakwah pertama kali di wilayah Gresik. Dakwahnya dilakukan dengan menyusuri pantai utara Jawa. Sepanjang perjalanan dakwahnya Sunan Drajat bertemu dengan masyarakat penganut Hindu-Budha dan berdakwah secara langsung. Tidak seperti Sunan Bonang yang menggunakan media gamelan untuk menyampaikan misi dakwahnya kepada masyarakat saat itu.

Sunan Drajat mendarat pertama kali di wilayah Jelak, Banjarwati pada akhir abad ke-15. Sunan Drajat kemudian membangun sebuah musala yang dijadikan sebagai sebuah tempat untuk beribadah. Musala tersebut juga ia pergunakan untuk berbagai kepentingan dakwah. Semakin banyak orang yang memeluk agama Islam, maka kemudian musala tersebut berkembang menjadi pesantren yang ia jadikan sebagai lembaga pendidikan untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat.

Desa Banjarwati kemudian menjadi semakin ramai. Bahkan banyak orang yang datang dari luar daerah karena mendengar kabar bahwa Sunan Drajat adalah adik dari Sunan Bonang yang terkenal piawai dalam melantunkan syair syair dan memainkan gamelan. Sehingga lama kelamaan desa tersebut menjadi semakin banyak penduduk dan bangunan huniannya, dan selanjutnya nama desa itu pun berubah menjadi Banjaranyar.

Setelah dirasa masyarakat di Banjaranyar cukup mapan dengan nilai nilai dan praktik ajaran Islam, ia pun melanjutkan perjalanan meninggalkan pesisir utara Jawa dan tiba di sebuah desa bernama Drajat. Di desa tersebut, ia melanjutkan misi dakwah mengajak masyarakat Jawa yang saat itu masih memeluk keyakinan Hindu-Budha untuk memeluk agama Islam.

Berikutnya Sunan Drajat melanjutkan perjalanan dakwahnya menuju ke Lamongan yang saat itu masih diperintah oleh Sultan Demak. Sunan Drajat memilih tempat di lokasi pegunungan karena dianggap aman dari banjir. Bukit tersebut kemudian diberi nama Ndalem Dhuwur, yang di atasnya kemudian Sunan Drajat mendirikan masjid untuk melaksanakan segala ibadah dan dakwah ajaran Islam kepada murid-murid dan masyarakatnya yang baru memeluk Islam.

Akhirnya Sunan Drajat wafat pada abad ke-16 M. pada tahun 1522 M., dan peninggalan-peninggalannya disimpan sebagai bukti sejarah perkembangan Islam di kota Gresik dan kota Lamongan Jawa Timur.

Adapun metode dakwah yang ditempuh oleh Sunan Drajat adalah dengan cara yang bijak dan halus. Ia selalu mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak saling menyakiti, karena sebagai sesama muslim sebaiknya harus hidup rukun dan damai jangan sampai terpecah belah. Ia menghindari cara-cara 

paksaan dalam mengajarkan agama Islam. Ia berdakwah melalui masjid atau musala, yang dilakukan sekaligus dengan praktik ibadahnya.

Ia terkenal dengan nasihat-nasihatnya tentang kehidupan yang kemudian disesuaikan dengan ajaran Islam. Sunan Drajat memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara yang bijak dan tidak memaksa. 

Dalam menyampaikan ajarannya ia menemput empat cara yaitu:

a. Pengajian secara langsung di langar atau musala

b. Penyelenggaraan pendidikan di pesantren

c. Memberikan nasihat dan fatwa untuk penyelesaian sebuah masalah

d. Melalui kesenian tradisional yaitu melalui tembang pangkur (pangudi isine Qur’an/mendalami makna Al-Qur’an) dengan iringan gending gamelan.

Adapun inti dari ajaran Sunan Drajat adalah Catur Piwulang (Empat Pengajaran) yaitu:

1) Paring teken marang wong kang kalunyon lan wuto (memberikan tongkat kepada orang yang buta)

2) Paring pangan marang wong kang kaliren (memberi makan kepada orang yang kelaparan)

3) Paring sandhang marang wong kang kawudan (memberi pakaian kepada orang yang telanjang)

4) Paring payung marang wong kang kodanan (memberikan payung kepada orang yang kehujanan)

Pesan welas asih dari catur piwulang tersebut kepada umat Islam untuk selalu memberikan pertolongan kepada orang yang mengalami kesulitan, tanpa melihat suku, agama, ras atau golongannya. Kapan saja kita melihat orang yang sedang dalam kesulitan baik fisik, sandang, pangan, papan dan kondisi apa pun, maka ringankanlah untuk memberikan pertolongan.

Pada saat melakukan penyebaran Islam di tanah Jawa pun, Sunan Drajat selalu beradaptasi dan menyesuaikan ajarannya dengan kondisi masyarakat setempat. Ia tidak serta merta memerintahkan dan memaksa orang-orang yang menganut ajaran Hindu-Budha untuk segera memeluk agama Islam. Sunan Drajat menggunakan strategi untuk menarik perhatian masyarakat agar datang ke tempat kediamannya. Ia menggunakan kesenian tradisional yang ada di daerah tersebut yaitu tembang-tembang yang diiringi dengan musik gamelan. 

Karena pendekatan melalui karya seni yang ia kembangkan, maka tidak sedikit masyarakat yang berbondong-bondong datang ke kediaman Sunan Drajat untuk menyaksikan syiar dan dakwahnya yang kemudian membawa mereka untuk masuk Islam. 

Sunan Drajat banyak memberikan pesan-pesan yang menjadi pengingat bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang menekankan pada perdamaian, baik perdamaian kepada Yang Maha Kuasa maupun perdamaian kepada diri sendiri. Ia selalu mengingatkan murid-muridnya agar selalu bersikap saling tolong menolong terhadap sesama demi terciptanya sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang akur dan makmur.


5. Sunan Kudus

Sunan Kudus merupakan salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan Isalm di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan. Ia diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1500 M. di daerah Jipang Panolan, sebelah utara kota Blora, wafat tahun 1550 M. dan dimakamkan di Kudus, Jawa Tengah. Ayahnya adalah Sunan Ngudung dan ibunya bernama Syarifah. Jika diurutkan nasabnya, Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad Saw. 

Sejak kecil Sunan Kudus dipanggil dengan nama Ja’far Shadiq. Ia mandalami agama Islam melalui ayahnya sendiri, sejak kecil hingga menginjak masa remaja. Sejak kecil ia memang bercita-cita untuk menjadi juru dakwah dan menyebarkan ajaran Islam. Selain memperdalam ilmu agama Islam melalui ayahnya, ia juga belajar ilmu agama kepada Kiai Telingsing dan Sunan Ampel. 

Kiai Telingsing adalah seorang ulama yang berasal dari Tiongkok, yang datang ke tanah Jawa bersama dengan armada laut Laksamana Cheng Hoo. Mereka datang dari daratan Tiongkok untuk menyebarkan Islam, juga untuk mengikat tali persaudaraan dengan orang Jawa.

Sunan Kudus juga mempelajari ilmu kemasyarakatan, politik, budaya, seni dan perdagangan. Semenjak Sunan Kudus belajar kepada Kiai Telingsing, ia menjadi lebih tekun, disiplin dan tegas dalam mengambil keputusan. Ia pun menjadikan hasil belajarnya sebagai bekal untuk mendakwahkan agama Islam. Salah satu keinginannya adalah menyebarkan agama Islam di tengah masyarakat yang masih menganut Hindu-Budha. Ia berhadapan dengan masyarakat yang taat kepada kepercayaan lamanya dan sulit untuk diubah. 

Namun berkat kesungguhan dan ketekunannya, ia dapat mengubah masyarakat yang beragama Hindu-Budha menjadi pemeluk agama Islam. Meskipun ia bukanlah penduduk asli Kudus, namun ia mampu menjadi tokoh sentral di Kudus karena jejak perjalanan hidup dan kemampuannya dalam menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Kudus.

Metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus adalah mengadopsi cara-cara yang telah dilakukan sebelumnya oleh Sunan Bonang. Penjelasan mengenai metode dakwah Sunan Kudus adalah sebagai berikut:

a) Tidak menggunakan jalan kekerasan atau radikalisme untuk mengubah masyarakat yang masih taat dengan kepercayaan lamanya. Ia memberikan kelonggaran terhadap tradisi yang sudah berkembang sejak lama, namun pelan-pelan ia sisipkan ajaran Islam kedalamnya.

b) Jika ada tradisi atau kebiasaan buruk yang berkembang di masyarakat, maka selagi hal tersebut dapat dirubah, maka Sunan Kudus berusaha merubahnya dengan pelan-pelan

c) Mengembangkan prinsip tutwuri handayani yaitu turut membaur dan ikut serta dalam kegiatan masyarakat, dan sedikit demi sedikit menanamkan pengaruh lalu berkembang menjadi prinsip tutwuri hangiseni yaitu perlahan-lahan menberikan nuansa Islam di dalamnyad) Tidak melakukan perlawanan dan konfrontasi langsung terhadap tindak kekerasan. 

e) Berusaha menarik simpati masyarakat agar tertarik dengan ajaran Islam.Masyarakat Kudus saat itu masih banyak yang menganut kepercayaan Hindu-Budha. Meski sebagian kecil sudah ada yang menganut agama Islam, namun jumlahnya tidak sebanding. Hal tersebut mendasari Sunan Kudus untuk mengembangkan ajaran toleransi beragama antara umat Islam dengan umat Hindu-Budha. Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada umat Hindu, pada saat hari raha Idul Adha Sunan Kudus tidak memperbolehkan umat Islam untuk menyembelih sapi, hewan yang dianggap keramat dan suci bagi umat Hindu. Hal tersebut rupanya justru menjadikan masyarakat Hindu menjadi bersimpati, sehingga mereka benar-benar segan dan menaruh rasa hormat kepada Sunan Kudus. Hal itulah yang kemudian sedikit demi sedikit membuat umat Hindu dan Budha tertarik untuk mendalami Islam.

Selain menyampaikan ajaran dakwah kepada umat Hindu-Budha, Sunan Kudus juga memperluas ajakannya kepada masyarakat yang masih menganut kepercayaan lokal yaitu animisme dan dinamisme. Ia pun menggunakan cara yang unik yaitu membangun pancuran wudu di Masjid Menara Kudus yang dibangunnya dengan jumlah 8 (delapan) pancuran, dan di setiap atas pancuran diletakkan arca. Hal itu dilakukan agar umat Budha yang sebelumnya tidak tertarik kepada agama Islam pun menjadi terdorong hatinya untuk mempelajari agama Islam. 

Sunan Kudus memahami bahwa ada 8 (delapan) ajaran pada agama Budha yang dikenal dengan Asta Sanghika Marga, yang kemudian simbol jumlah 8 tersebut dijadikan sebagai jumlah pancuran wudlu yang ia bangun. Asta Sanghika Marga tersebut adalah:

1) Memiliki pengetahuan yang benar

2) Mengambil keputusan yang benar

3) Berkata yang benar

4) Bertindak yang benar

5) Hidup dengan cara yang benar

6) Bekerja dengan benar

7) Beribadah dengan benar

8) Menghayati agama dengan benar

Dan nampaknya strategi yang dilakukan oleh Sunan Kudus ini menarik umat Budha. Kemudian banyak masyarakat yang datang ke masjid kemudian Sunan Kudus mulai mengenalkan ajaran Islam. Terhadap persoalan adat istiadat, Sunan Kudus tidak serta merta menentang masyarakat yang sering menabur bunga di jalan, meletakkan sesajen di kuburan, dan adat-adat lain yang dianggap melenceng dari ajaran Islam dan mengandung unsur syirik. Sunan Kudus justru berfikir bahwa hal tersebut bisa dijadikan media untuk menarik masyarakat. Ia memodifikasi hal-hal tersebut dan mengarahkannya agar sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.

Salah satunya adalah dengan cara mengubah fungsi sesajen yang berupa makanan, lebih baik disedekahkan kepda orang yang kelaparan, permohonan kepada nenek moyang dan roh halus, diarahkan untuk memohon hanya kepada Allah Swt., memodifikasi makna-makna yang ada dalam upacara mitoni yang disakralkan oleh umat Hindu-Budha sebagai ucapan syukur karena telah dikaruniai keturunan dan lain-lain. Dalam hal ini Sunan Kudus tidaklah menghapus tradisi dan adat istiadat yang berkembang di masyarakat, namun ia meluruskannya agar tidak melenceng dari ajaran Islam dan terhindar dari perbuatan syirik.

Pola pendekatan semacam inilah yang mendatangkan simpati dan ketertarikan masyarakat untuk mempelajari Islam, bukan sebaliknya dengan mengedepankan sifat-sifat kekerasan dalam menentang dan memberantas kebiasaan dengan atas nama pemberantasan tahayul, bid’ah dan khurafatdengan serta merta menghapuskan adat lama, yang telah berkembang sebelumnya. Karena jika hal tersebut dilakukan bukan simpati yang akan diperoleh namun kebencian, resitensi dan penolakan dari masyarakat yang akan diterima. Dalam hal ini Sunan Kudus memberikan teladan yang sangat berguna yaitu strategi dakwah yang masih relevan kiranya diterapkan di era modern saat ini, tentu dengan menyesuaikan kultur dan karakter masyarakat di sekitar kita, dan kecerdasan dalam merumuskan strategi yang tepat tanpa melukai dan menyakiti hati siapa pun. Dan inilah yang dimaksud dengan Islam rahmatan lil ‘alamin.


6. Sunan Giri

Nama asli dari Sunan Giri adalah Raden Paku dan memiliki nama panggilan lain yaitu Ainul Yaqin. Ia lahir di Blambangan (sekarang Banyuwangi) pada abad ke-15 M. sekitar tahun 1442 M., wafat pada tahun 1506 M., dimakamkan di Dusun Giri, Desa Giri, Gresik, Jawa Timur. Ayahnya bernama Maulana Ishaq (saudara kandung Maulana Malik Ibrahim/Sunan Gresik) dan ibunya adalah seorang putri yang bernama Dewi Sekardadu. 

Saat remaja Sunan Giri berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya. Setelah itu bersama dengan Sunan Bonang ia pergi ke Pasai dan memperdalam ilmu agama Islam. Setelah merasa cukup ilmu, ia pun memutuskan untuk membuka pesantren di daerah perbukitan Sidomukti, di selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah ‘giri’ oleh karena itulah ia mendapatkan julukan Sunan Giri. Pesantren tersebut tidak hanya dipergunakan untuk lembaga pendidikan saja, namun karena kekhawatiran jika Sunan Giri akan merancang pemberontakan di pesantren tersebut, Raja Majapahit justru memberinya keleluasaan untuk mengatur pemerintahan. Dan karena hal tersebutlah pesantren Sunan Giri berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut dengan Giri Kedaton.

Pengaruh Sunan Giri bahkan sampai keluar pulau Jawa, seperti Makassar, Ternate dan Tidore. Bahkan konon raja-raja di daerah tersebut, belum dianggap sah jika belum direstui oleh Sunan Giri. Pada abad ke-15 M, di saat kerajaan Majapahit dikalahkan oleh Raja Kaling Kediri, dan berada diambang keruntuhan. Pada saat itulah Sunan Giri yang dianggap sebagai tokoh yang memiliki kekuasaan di pemerintahan segera dinobatkan menjadi raja peralihan. 

Hal tersebut dimanfaatkan oleh Sunan Giri untuk menyebarluaskan ajaran Islam, hingga akhirnya setelah situasi kondusif, ia menyerahkan pemerintahan Majapahit kepada Raden Patah, Putra dari Brawijaya Kertabumi, Raja Majapahit sebelumnya.

Pengaruh Sunan Giri selama masa pemerintahan tersebut, turut melatarbelakangi berdirinya sebuah kerajaan yang bernama Demak Bintoro, yang sekaligus merupakan kerajaan Islam yang pertama di pulau Jawa.

Strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Giri dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya hingga pendekatan politik. Dalam bidang pendidikan ia tidak hanya didatangi murid atau santri dari berbagai daerah, namun tidak segan juga ia yang mendatangi masyarakat dan menyampaikan ajaran secara langsung. Setelah situasi memungkinkan, masyarakat dikumpulkan pada acara-acara selamatan, upacara adat dan lain sebagainya, sehingga lambat laun ajaran Islam disisipkan sehingga masyarakat menjadi lunak dan mengikuti ajaran Islam.

Di kalangan Wali Songo, Sunan Giri dikenal sebagai seorang wali yang ahli dalam bidang politik ketatanegaraan. Pandangan politiknya dijadikan rujukan, bahkan ketika Raden Patah melepaskan diri dari kerajaan Majapahit, Sunan Giri dipercaya meletakkan dasar-dasar kerajaan masa perintisan atau ahlal-halli wa al-‘aqd (sebuah lembaga atau dewan yang berwenang dalam memutuskan tentang pengangkatan seorang pemimpin dalam sistem politik Islam/ semacam DPR dalam era pemerintahan modern) di kerajaan Demak Bintoro. 

Dalam bidang budaya, Sunan Giri mengembangkan dakwah Islam dengan memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Sunan Giri di kenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana dan Pucung, Padhang Bulan, Jor, Gula Ganti dan permainan anak Cublak-cublak Suweng.


7. Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga termasuk salah seorang dari Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Raden Said yang lahir pada sekitar tahun 1450 M. di Tuban dan wafat pada abad ke-16 M. sekitar tahun 1580 M. Dapat dikatakan bahwa Sunan Kalijaga hidup selama lebih dari 100 tahun. 

Ayahnya adalah Arya Wilatikta, dan ibunya bernama Dewi Retno Dumilah. Ayahnya merupakan seorang tumenggung di wilayah Tuban, di bawah pemerintahan kerajaan Majapahit. 

Sunan Kalijaga selanjutnya menikah dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishak. Dari pernikahan tersebut Sunan Kalijaga dikaruniai 3 (tiga) orang putra, salah satunya adalah Raden Umar Said yang di kemudian hari akan melanjutkan jejak Sunan Kalijaga yang dikenal dengan Sunan Muria. 

Sebuah sumber sejarah menyebutkan bahwa Raden Said remaja dikenal sebagai seorang bangsawan, meskipun demikian ia hidup tanpa tata cara bangsawan. Raden Said menjalani kehidupan rakyat biasa, ia dikenal mampu membaur dengan berbagai golongan termasuk rakyat jelata sekali pun.

Dari situlah ia mengamati dan merasakan bagaimana kehidupan di masyarakat, sehingga setiap hal yang terjadi di Tuban saat itu dapat diketahui olehnya. Kondisi sosial masyarakat saat itu cukup memprihatinkan. Banyak pejabat yang memungut upeti dari rakyat tetapi tidak disetorkan ke kerajaan. 

Mereka melakukan tindakan korupsi sedangkan upeti yang harus dibayarkan oleh rakyat jumlahnya sangat tinggi. Berangkat dari kegelisahannya menyikapi situasi tersebut, maka Raden Said pun memberikan nasihat keras kepada para pejabat pemerintah yang korup agar memberikan sebagian besar hartanya kepada orang-orang miskin. Hal ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra dikalangan pejabat pemerintah. 

Bagi pejabat yang korup tentu ide ini bertolak belakang dengan nafsu duniawi mereka. Bagi rakyat miskin, tentunya Raden Said dianggap sebagai sosok pahlawan, namun disisi lain tindakan ini memicu kegaduhan didalam istana. Dan perilaku inipun tercium oleh ayahandanya. Kemudian ia di usir oleh ayah kandungnya sendiri karena dianggap telah meresahkan masyarakat dan orang orang dalam lingkaran pemerintahan Kerajaan Setelah diusir dan berkelana seorang diri itulah, Raden Said bertemu dengan Sunan Bonang, yang kemudian menjadi gurunya. Setelah menyerap ilmu dari Sunan Bonang, Raden Said lantas berguru kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon. Ia pun berguru kepada para wali yang lain, sehingga meskipun ia adalah wali yang termuda, manun merupakan murid yang paling pandai.

Raden Said kemudian menjadi salah satu dari sembilan wali dengan sebutan Sunan Kalijaga dan bertugas untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa. Sebagai seorang wali, Sunan Kalijaga telah berubah menjadi seseorang yang memiliki tingkah laku yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Ia menyebarkan ajaran Islam dengan berdakwah baik melalui kegiatan pemerintahan, keagamaan, maupun kesenian. Sunan Kalijaga menjadi salah satu wali yang bersama-sama membangun Masjid Agung Demak bersama beberapa wali yang lain.

Sebagaimana halnya pola dakwah yang dilakukan oleh para wali sebelumnya, Sunan Kalijaga mengenalkan Islam kepada masyarakat Jawa dengan pelan pelan. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat tidak kaget dengan perubahan kebudayaan Islam yang dibawa olehnya. Ia berusaha untuk tidak menyinggung atau langsung secara frontal menggantikan keyakinan yang mereka anut dengan ajaran Islam. Tidak jarang bahkan Sunan Kalijaga memodifikasi upacara upacara adat, tata cara atau budaya yang selama ini berkembang dengan corak Hindu-Budha dengan menyisipkan nilai-nilai Islam kedalamnya. 

Dengan strategi ini Sunan Kalijaga tidak langsung menghilangkan unsur unsur dan corak kebudayaan lama yang sudah berkembang sebelumnya, sehingga masyarakat pun juga tidak resisten dan melakukan penolakan terhadap ajaran baru yang dibawa oleh Sunan Kalijaga. Ajaran Islam harus disampaikan kepada masyarakat sedikit demi sedikit, apalagi syarat untuk masuk Islam yang begitu mudah yakni hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, sehingga ajaran Islam pun dapat diterima oleh masyarakat.

Kesimpulannya adalah, segala hal yang berasal dari kebudayaan lama dengan corak Hindu-Budha, masih diadopsi dan dijadikan sebagai media dakwah oleh Sunan Kalijaga untuk memasukkan ajaran Islam ke dalam kehidupan masyarakat Jawa. Sebut saja peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. di Yogyakarta, yang sampai saat ini masih dilestarikan dengan tradisi Sekaten dan Grebeg Maulid. Konon katanya nama sekaten berasal dan kalimat syahadatain yang artinya dua kalimat syahadat. Sunan Kalijaga memanfaatkan tradisi Grebeg tersebut yang dipadukan dengan perayaan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. dengan corak khas Yogyakarta, dan manakala masyarakat sudah berkumpul untuk merapayakan grebeg tersebut, ia akan memasukan ajaran-ajaran Islam kepada Masyarakat.

Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai seorang dalang yang mahir memainkan wayang kulit. Dengan media ini Sunan Kalijaga mampu menarik perhatian banyak orang untuk berkumpul, menyaksikan dan mengadakan pertunjukan wayang. Sunan Kalijaga membuat cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat. Kemudian Sunan Kalijaga menyelipkan ajaran-ajaran Islam di dalam lakonnya. Dengan metode yang demikian, masyarakat yang menyaksikan pertunjukan wayang itupun akan tertarik untuk mempelajari Islam secara lebih mendalam.

Pada zaman tersebut, wayang kulit memang merupakan salah satu hiburan yang digemari oleh masyarakat Jawa. Sehingga strategi Sunan Kalijaga dengan memanfaatkan wayang kulit sebagai media dakwah pun mampu menarik perhatian masyarakat dari semua lapisan golongan. Bahkan dengan strategi ini, penyebaran Islam di Jawa dapat berjalan lebih efektif sehingga pertumbuhan Islam di Jawa menjadi semakin pesat.

Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai seorang politikus yang menjadi penasehat kerajaan Demak. Pengaruh pemikiran Sunan Kalijaga banyak mewarnai kebijakan-kebijakan di Kasultanan Demak sehingga menjadi kerajaan Islam yang besar di tanah Jawa. 

Dalam hal berpakaian, Sunan Kalijaga tidak menggunakan pakaian jubah atau pakaian seperti yang dikenakan oleh para ulama yang lain. Sunan Kalijaga membaur dengan masyarakat sehingga masyarakat tidak merasa asing dengannya, bahkan menganggapnya seperti masyarakat Jawa kebanyakan dan masyarakat pun menerimanya dengan senang hati.

Sunan Kalijaga berpendapat bahwa, penting terlebih dahulu merebut hati masyarakat, dan yang paling utama adalah bagaimana masyarakat mau menerima kehadirannya. Dengan demikian, setelah masyarakat mau menerima kehadirannya, maka pelan-pelan mereka pun akan menerima ajarannya. 

Sedemikian elok strategi, kesabaran, kesungguhan dan kegigihan para wali dalam menyebarkan agama Islam, bil hikmah wal maudlatil hasanah sehingga begitu cepatnya ajaran Islam diterima oleh masyarakat.


8. Sunan Muria

Sunan Muria termasuk salah satu Wali Songo yang dilahirkan pada abad ke-15 M. dan wafat pada awal abad ke-16 M. dan dimakamkan di Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Nama aslinya adalah Raden Umar Said atau Raden Prawoto. Ia merupakan putra dari Sunan Kalijaga dan Dewi Sarah binti Maulana Ishak. Ia menikah dengan Dewi Sujinah yang merupakan putra Sunan Ngudung dan menjadi adik ipar dari Sunan Kudus.

Wilayah dakwah dan penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Muria adalah di pantai utara Jepara. Sunan Muria berdakwah di sekitar wilayah Tayu, Pati, Juwana, Kudus dan lereng-lereng gunung Muria. Sebagaimana dengan strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan para wali lainnya, Sunan Muria terbiasa menggunakan keahliannya dalam bidang seni untuk berdakwah. Ia dikenal sebagai wali yang mahir dalam memainkan alat kesenian dan sekaligus ia pergunakan untuk media dakwahnya. Ia merupakan seorang wali yang gemar berdakwah di desa-desa terpencil, bahkan di pelosok desa yang jauh dari pusat kota. Ia sering menyendiri dan menjadikan tempat-tempat yang tenang untuk menyebarkan agama Islam.

Selain di wilayah-wilayah pelosok, Sunan Muria juga mengajarkan Islam kepada para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Ia dikenang sebagai seorang wali yang memiliki tubuh yang kuat, hal tersebut dikarenakan tempat tinggalnya yang berada di puncak gunung Sunan Muria hidup pada masa kasultanan Demak yaitu kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan ini berkembang menjadi kerajaan besar di bawah kepemimpinan sultan pertama yaitu Raden Patah (1481-1518 M). 

Bahkan kekuasaan kerajaan Demak meluas hingga ke Kalimantan Selatan, Palembang dan Jambi. Bahkan pada tahun 1512-1513 di bawah pimpinan Adipati Unus puteranya, Demak berhasil membebaskan Malaka dari kekuasaan Portugis. Karena pernah memimpin pasukan untuk pembebasan Malaka itulah Adipati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor (pangeran yang pernah menyeberang ke utara).

Sunan Muria memiliki kontribusi yang sangat besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Metode dakwah yang dilakukan pun tidak jauh berbeda dengan yang ditempuh oleh Sunan Kalijaga, yaitu tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang kulit sebagai sarana dakwah. Ia berdakwah kepada rakyat kalangan bawah di daerah Colo, namun ia tetap bertempat tinggal di Gunung Muria karena ia merasa damai dan nyaman serta dapat bergaul dengan semua masyarakat seraya mengajarkan ilmu bercocok tanam, berdagang dan melaut.

Sunan Muria juga menciptakan tembang Sinom dan Kinanti sebagai media dakwah. Dengan syair pada tembang-tembang tersebut, ia mengajak masyarakat untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari hari. Ia belajar tentang gaya dan pendekatan kepada masyarakat dengan melakukan pembenahan yang sekiranya harus disesuaikan dengan perkembangan kehidupan di masyarakat. 

Salah satu keberhasilan dakwah Sunan Muria sebagaimana para wali lainnya adalah kemampuannya memahami kondisi sosial masyarakat. Tradisi lama yang sebelumnya bercorak Hindu-Budha yang disesuaikan dengan ajaran Islam, kemudian tetap dilestarikan dan menjadi kekayaan budaya Nusantara dan kearifan lokal di Indonesia saat ini, sehingga tidak tercerabut dan punah begitu saja.

Berikut ini catatan sejarah tentang alasan mengapa Sunan Muria lebih senang berdakwah kepada masyarakat lapisan bawah, adalah karena ia mengikuti jejak ayahandanya Sunan Kalijaga. Dalam hal ini, para sejarawan menggolongkan pola dakwah Wali Songo menjadi dua tipe yaitu:

1) Golongan Abangan

Golongan ini disebut juga aliran Tuban atau aluran. Dalam berdakwah para wali yang termasuk dalam golongan ini menggunakan cara-cara yang moderat, lunak dan menggunakan media kesenian dan kebudayaan serta tradisi yang sudah ada di masyarakat dan menyisipkan dan menyesuaikannya dengan nilai nilai dan ajaran Islam. Termasuk pada golongan ini adalah Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Gunungjati. Golongan ini lebih suka melakukan dakwahnya kepada rakyat jelata.

2) Golongan Putihan

Golongan ini juga disebut aliran santri. Mereka berdakwah dengan menggunakan metode yang langsung bersumber dari Al-Qur’an dan sunah, pedoman umat Islam pada umumnya. Golongan ini lebih suka berdakwah kepada golongan ningrat dan bangsawan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah Sunan Giri, Sunan Ampel dan Sunan Drajat.


9. Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari Wali Songo yang lahir pada tahun 1450 M. dengan nama asli Syarif Hidayatullah. Ia adalah putra dari Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, dari seorang ibu bernama Nyai Rara Santang. Jamaluddin Akbar kakek buyut dari Syarif Hidayatullah adalah seorang mubaligh besar dari Gujarat, India yang dikenal dengan Syekh Maulana Akbar. Ia merupakan keturunan Rasulullah Saw. dari jalur Husain bin Ali.

Pada masa remajanya, Syarif Hidayatullah memperdalam ilmu agama dengan berguru kepada Syekh Tajudin al-Kubri dan Syekh Ataullahi Sadzili di Mesir, kemudian ia melanjutkan belajar ilmu tasawuf ke Baghdad. Dan pada saat berusia 27 tahun, sekitar tahun 1475 M., ia kembali ke tanah Jawa dan tinggal di Caruban di dekat wilayah Cirebon. Ia pun menikah dengan Nyi Ratu Pakungwati, putri dari Pangeran Cakra Buana, penguasa Cirebon. Setelah Pangeran Cakra Buana memasuki usia lanjut, maka kekuasaan atas Kasultanan Cirebon diserahkan kepada Sunan Gunung Jati selaku menantunya. 

Sunan Gunungkati adalah seorang wali yang memberikan banyak kontribusi untuk penyebaran agama Islam. Ia pun pernah mengunjungi Prabu Siliwangi, kakeknya di Kerajaan Pajajaran. Saat itu ia mengajak kakeknya untuk memeluk agama Islam, namun ditolak. Meskipun demikian sang kakek tidak menghalangi cucunya untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Pajajaran. 

Setelah dari Pajajaran, Sunan Gunung Jati melanjutkan perjalanan dakwahnya ke wilayah Serang. Penduduk Serang sudah banyak yang menganut agama Islam, dikarenakan banyak di antara mereka yang sebelumnya pernah bertemu dengan Sunan Gunung Jati di Banten. 

Di wilayan Banten, Sunan Gunung Jati bertemu dengan Sunan Ampel, dan kemudian berguru kepadanya. Dari Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati belajar banyak hal mengenai ajaran Islam, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Demak bersama dengan Sunan Ampel. Dan sepulang dari memperdalam ilmu agama di Demak tersebut, Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon, tidak hanya untuk menyebarkan agama Islam, namun ia diangkat menjadi penguasa kasultanan Cirebon menggantikan ayah mertuanya Pangeran Cakra Buana.

Dalam kedudukannya sebagai raja, Sunan Gunung Jati membuat kebijakan tentang pajak yang jumlah, jenis dan besarannya disederhanakan agar tidak memberatkan rakyat. Ia juga membangun Masjid Agung Sang Ciptarasa dan masjid-masjid Jami’ di wilayah Cirebon. Ia juga menghentikan tradisi pengiriman pajak kepada kerajaan Pajajaran, yang biasanya diserahkan secara periodik dalam satu tahun. Keputusan ini merupakan simbol pernyataan berdirinya Kasunanan Cirebon yang berdasarkan pada ajaran Islam. 

Dinamika perjalanan dakwah Sunan Gunung Jati, sekilas seperti tidak ada yang berbau kekerasan dan pemaksaan. Kapasitasnya sebagai seorang ulama sekaligus sebagai seorang raja, tentu saja seolah memainkan standar ganda. Pada satu sisi, sebagai seorang ulama, segala tindak tanduk dan perkataannya harus selalu menunjukkan keteladanan, namun sebagai seorang raja, sangat mungkin ia bertidak secara politis yang semuanya disandarkan pada alasan untuk penyebaran agama Islam, seperti contoh pemutusan penyetoran upeti kepada kerajaan Pajajaran tersebut di atas

Dalam hal ini, sesungguhnya kebijakan-kebijakan politik yang ditempuh oleh Sunan Gunung Jati sebagai raja, menggunakan prinsip rahmatan lil ‘alaminuntuk menuju negeri yang baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafuur. 

Proses islamisasi yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Posisinya sebagai ulama menjadikan ia mendapat gelar waliyullah dan kapasitasnya sebagai kepala negara ia pun memperoleh gelar Sayyidin Panatagama yang dalam tradisi Jawa seorang raja adalah wakil Tuhan di dunia. 

Adapun ragam metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati dalam proses Islamisasi tanah Jawa adalah sebagai berikut:

a) Metode muidlah hasanah/nasihat-nasihat yang baik

b) Metode al-hikmah/menggunakan cara-cara yang bijaksana 

c) Metode tadarruj/berjenjang, tingkatan belajar seorang murid (pesantren)

d) Metode ta’awun yaitu saling tolong menolong dan berbagi ketugasan dalam menyebarkan agama Islam di kalangan para wali

e) Metode musyawarah untuk membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan tugas dan perjuangan dakwah para wali

f) Pembentukan kader dai.

Meskipun kasultanan Cirebon adalah kerajaan Islam, namun Sunan Gunung Jati tidak serta merta hidup dalam kebudayaan yang Islami. Masih banyak corak kebudayaan lain yang dipertahankan dan diserap untuk menunjukkan bahwa Islam memiliki nilai toleransi yang tinggi terhadap kepercayaan lain. Hal tersebut terlihat dari corak ornamen, arsitektur atau pun hiasan-hiasan yang masih memasang sejumlah piring keramik sebagai hiasan dinding. Hiasan tersebut kemudian menjadi bukti kedekatan antara Tiongkok dengan budaya Islam saat itu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel