Jejak dan Langkah Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani

1. Riwayat Hidupnya 

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar al-Tanara al Jawi al-Bantani. Dikenal juga dengan nama Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Lebih terkenal dengan nama Syekh atau Imam Nawawi Banten. Ayahnya adalah Umar bin Arabi yang merupakan seorang ulama di Banten. 

Dikisahkan juga, bahwa Syekh Nawawi masih keturunan dari Sunan Gunung Jati (salah satu Wali Songo) dari Sultan Banten I, yakni Maulana Hasanuddin. Imam Nawawi juga dikabarkan masih memiliki jalur nasab dari Sayyidina Husein r.a, salah satu cucu Rasulullah Saw. selain Sayyidina Hasan r.a. 

Sebutan al-Jawi, menunjukkan bahwa beliau berasal dari Pulau Jawa, sebab Banten menjadi bagian dari Pulau Jawa. Namun, di seantero dunia, beliau diberi gelar Sayyidul Hijaz (Maha Guru Jazirah Arab, Saudi Arabia sekarang). Kebesaran nama Imam Nawawi sepadan dengan Imam Syafi’i (salah satu tokoh madzhab, sehingga dikenal dengan Madzhab Syafi’i).

Beliau dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada ahun 1815 Masehi, atau 1230 Hijriah, dan beliau wafat pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriah, atau 1897 Masehi. Imam Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 84 tahun.

Di Makkah, Imam Nawawi giat menghadiri majelis-majelis ilmu, khususnya di Masjidil Haram. Hingga, setelah dilihat kedalaman ilmu (Faqih) oleh imam masjid utama tersebut, yakni Syekh Ahmad Khatib Sambas (ini juga tokoh Indonesia yang kaliber dunia) memintanya untuk menggantikan posisinya Mulailah Imam Nawawi menjadi pengajar dan membuka majelis ilmu sendiri di Masjidil Haram. 

Semakin hari, murid atau santrinya semakin banyak. Bahkan, beberapa di antara muridnya merupakan pemuda asal Indonesia juga, yakni Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Nadlatul Ulama (NU).


2. Teladan yang dapat dicontoh

Syekh Nawawi pernah menjadi imam di Masjidil Haram, mengajar di Haramain (sebutan lain dari Makkah Madinah), dan karya-karyanya tersebar juga di Timur Tengah. Di kawasan Asia Tenggara, khususnya di dunia pesantren, karya-karyanya masih dipelajari, dikaji, dan ditelaah, bahkan sampai kini menjadi kurikulum tetap di pesantren.

Gelar Sayyidul Hijaz bukan sembarang gelar, dan itu diperoleh di wilayah Timur Tengah, tepatnya di seputar Jazirah Arab (Makkah-Madinah saat itu), dan Masjidil Haram, khususnya Ka’bah yang menjadi jantung atau pusatnya ajaran Islam. Hal ini, menjadikan kita sebagai bangsa Indonesia, merasa bangga dan kagum atas capaian yang diperoleh oleh beliau. Sebab itu, kalian sebagai generasi penerus dapat mencontoh jejak dan langkah Imam Nawawi.


3. Karya Tulisnya

Sejak tahun 1870 M, kesibukan Imam Nawawi semakin bertambah, karena harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis, lebih banyak datang dari desakan sebagian koleganya dan para sahabatnya dari Jawa. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami.

Alasan menulis syarh, selain karena permintaan pihak lain, Imam Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (tahrif) dan pengurangan. Saat menyusun karyanya, beliau selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, termasuk sebelum naskahnya naik cetak. Karya-karya beliau cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia, karena karya-karyanya mudah dipahami dan mendalam isinya.

Karya tulis beliau banyak yang diterbitkan di Mesir, seringkali beliau hanya mengirimkan manuskripnya, setelah itu tidak memperdulikan lagi bagaimana penerbit menyebarkan hasil karyanya, termasuk hak cipta dan royaltinya, selanjutnya kitab-kitab beliau itu menjadi bagian dari kurikulum Pendidikan Agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand dan juga negara-negara di Timur Tengah. 

Menurut Ray Salam T. Mangondana, peneliti di Institut Studi Islam, Universitas of Philippines, ada sekitar 40 sekolah agama tradisional di Filipina yang menggunakan karya Imam Nawawi sebagai kurikulum belajarnya. 

Selain itu Sulaiman Yasin, dosen di Fakultas Studi Islam Universitas Kebangsaan Malaysia juga menggunakan karya beliau untuk mengajar di kuliahnya.

Tepat tahun 1870 M, para ulama Universitas Al-Azhar Kairo Mesir pernah mengundang beliau untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiah. Mereka tertarik untuk mengundang beliau, karena sudah dikenal di seantero dunia. Semua karya beliau, berbahasa Arab.

Bagi para murid/santri yang pernah sekolah (mondok) di pesantren, tentu karya atau kitab yang disusun oleh Syekh Nawawi sudah pernah dipelajari. Berikut ini, 10 nama kitab karya beliau dari total karya beliau yang berjumlah 115 yang mengupas tentang Fiqh, Tasawuf, Tafsir, dan Hadis, yaitu: 

1) Sullam al-Munājah syarah Safīnah al-Shalāh

2) Bahjah al-Wasāil syarah al-Risālah al-Jāmi’ah bayn al-Usūl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf

3) al-Tausyīh/Quwt al-Habīb al-Gharīb syarah Fath al-Qarīb al-Mujīb

4) Marāqi al-‘Ubūdiyyah syarah Matan Bidāyah al-Hidāyah

5) Nashāih al-‘Ibād syarah al-Manbahātu ‘ala al-Isti’dād li yaum al-Mi’ād

6) Qāmi’ al-Thugyān syarah Mandhūmah Syu’bu al-Imān

7) al-Tafsir al-Munīr li al-Mu’ālim al-Tanzīl al-Mufassir ‘an wujūĥ mahāsin al-Ta΄wil musammā Marāh Labīd li Kasyaf Ma’nā Qur΄an Majīd

8) Nur al-Dhalām ‘ala Mandhūmah al-Musammāh bi ‘Aqīdah al-‘Awwām

9) Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts

10) ‘Uqūd al-Lujain fi Bayān Huqūq al-Zaujain.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel